Wednesday

Antara Buta dan Tidak

Kata cinta perlu pengorbanan dan dengan berkorban cinta akan abadi. Pernyataan ini ada benernya dan ada salahnya. Benar jika dia memang pantas membuat dia berkorban. Salah jika dia ternyata tidak benar-benar mencintai kita. Gw yakin diantara kalian yang baca pasti ada yang tidak setuju dengan statement ini. Gw akan beri sebuah contoh pada kalian. Baca dan resapi baik-baik kisah ini.

Dewi adalah seorang gadis yang sangat cantik dan kaya raya. Semasa hidupnya dia sangat sombong dan selalu mempermainkan pria dengan kecantikan hatinya. Dia mendapatkan hadiah sebuah mobil dari ayahnya saat ulang tahun ke-17. Mobil itu membuatnya sangat senang tanpa dia sadari mobil itu akan mengubah jalan hidupnya. Suatu hari dia bersama ayah dan ibunya berencana pergi ke puncak. Dewi yang baru mendapat SIM mencoba membawa mobil yg diberikan ayahnya. Saat itu hujan deras, dewi mengendarai Mobilnya dengan sangat cepat walau ibunya sudah meminta untuk menurunkan kecepatan. Ketika mobil menaiki tanjakan tiba-tiba ban mobil itu selip dan akhirnya mobil itu menabrak mobil truk didekatnya dan terpental. Ayah dan ibunya tewas ditempat sedangkan dewi koma selama 3bulan dan matanya menjadi buta karena serpihan kaca yang masuk ke dalam matanya. Selama dia koma harta kekayaan keluarganya direbut oleh saudara-saudaranya. Begitu sembuh dari koma dia mendapati dirinya sendirian,miskin dan tak berdaya.

Rey adalah pria yg dihina oleh dewi waktu disekolahnya dulu. Rey memang lelaki yang hidup sederhana karena dia tidak memiliki orang tua. Dia hidup sebatang kara di rumah yang diwariskan alm. bapaknya. Dia sangat disayang oleh saudara-saudaranya karena sifatnya yang sangat baik dan pintar. Suatu waktu ketika dia ke rumah sakit untuk menjenguk pamannya dia melihat dewi sedang duduk dikursi roda. Dewi nampak sedih,matanya dibalut dengan kain kasa. Rey kemudian menghampirinya dan mengajaknya bicara. Dewi sebenarnya takut karena tidak bisa melihat,tapi dia berpikir rey adalah petugas rumah sakit. Setelah mendengar cerita dewi, rey merasa iba. Dia sekarang mengerti kenapa tiba-tiba menghilang dari sekolah. Sejak saat itu rey selalu datang setiap hari untuk menjenguk dewi. Biaya rumah sakitpun dia yang membayar dengan kerja sambilan. Dewi sangat terharu dengan kebaikan rey. Tak terasa 1 tahun mereka lalui bersama. Suatu hari dewi mengatakan "Rey, andai suatu hari aku bisa melihat lagi, maukah kau menikahi ku?". Rey sungguh tersentuh mendengar perkataan itu. Tak lama setelah itu dokter mengatakan ada seseorang yang mendonorkan matanya untuk dewi. Operasi dilakukan dan berjalan sukses.

Akhirnya tiba hari dimana dewi bisa melihat lagi. Rey hanya menunggu disampingnya. Dewi senang bisa melihat lagi walaupun masih samar-samar. "Wi, sekarang kau sudah bisa melihat maukah kau menikah denganku" kata rey sambil memegang tangannya. Begitu terkejut dewi melihat bahwa rey yg selama ini bersamanya adalah rey yg dulu dihinanya disekolah dan sekarang rey buta. "Aku tidak sudi menikah dengan orang buta sepertimu" jawab dewi ketus. Dia telah lupa diri dan lupa semua kebaikannya. Rey nampak sedih dan meneteskan air mata. Dia berjalan pergi dan meninggalkan surat yang memang sudah disiapkannya. Isi surat itu adalah "Dewi, aku tau ini akan terjadi. Aku mengerti aku tak pantas untukmu. Jaga baik-baik ke-2 mata yang kuberikan padamu."

Sepuluh tahun berlalu. Rey hanya menjadi seorang pengemis buta yang tak bisa apa-apa. Sementara dewi yang kembali bisa melihat menikah dengan lelaki kaya raya dan hidup mewah.

Percaya atau tidak kehidupan nyata adalah seperti ini. Manusia selalu lupa segalanya ketika dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Lupa akan janji-janjinya. Seperti calon DPR yang berhasil jadi DPR. Cinta bukan hanya pengorbanan sepihak. Cinta tak bisa terwujud dengan itu. Karena pengorbanan sepihak itu bukan cinta.

Ingatlah segala hal ketika kita berada dimasa sulit

Jangan lupakan janji yang terucap

Cinta tak harus selalu berkorban


http://diary-gila-ronney.blogspot.com/search/label/Renungan

No comments:

Post a Comment

Tiny Finger Point Hand With Heart